Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Masuk Neraka Karena Sesajen Seekor Lalat


Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat dan masuk neraka karena seekor lalat pula”
Para Sahabat bertanya, “Bagaimana bisa terjadi demikian, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Terdapat dua orang yang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, tak seorang pun diperkenankan melewati berhala itu sebelum memberikan sesuatu.

Kemenangan Islam di Masa Depan Islam, Ilusikah?

dakwatuna.com - Kembali menulis tentang sebuah keyakinan bahwa kemenangan Islam itu adalah sebuah kepastian, sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah SWT dan yang dikabarkan Rasulullah SAW.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nuur: 55)

Fakta dan Sejarah dibalik Perayaan Tahun Baru Masehi

Penanggalan Kalender Masehi tidak terlepas dari Sejarah Romawi Kuno. Kalender Masehi adalah kalender yang mulai digunakan oleh umat Kristen awal. Mereka berusaha menetapkan tahun kelahiran Yesus atau Isa sebagai tahun permulaan (tahun 1). Namun untuk penghitungan tanggal dan bulan mereka mengambil kalender bangsa Romawi yang disebut kalender Julian (yang tidak akurat) yang telah dipakai sejak 45 SM, mereka hanya menetapkan tahun 1 untuk permulaan era ini. Perhitungan tanggal dan bulan pada Kalender Julian lalu disempurnakan lagi pada tahun pada tahun 1582 menjadi kalender Gregorian. Penanggalan ini kemudian digunakan secara luas di dunia untuk mempermudah komunikasi.

Luangkanlah Sedikit waktumu dengan Tilawah Al-Qur’an

SESIBUK apa kita hari ini? Berapa jam kita beraktifitas?  Dan berapa jam kita sempatkan untuk bukan Facebook, Twitter-an, SMS-an atau chatting dengan kawan dan orang terdekat kita?
Bandingkan kesediaan diri kita untuk meluangkan sedikit waktu membuka mushaf al-Quran, sempatkah? Sesungguhnya tidak ada alasan untuk tidak bisa mengaji setiap hari, barang semenit-dua menit. Karena sebenarnya mengaji adalah kebutuhan yang paling penting di antara kebutuhan yang lain.  Padahal kita hanya butuh waktu sedikit saja dari persediaan waktu kerja atau belajar kita.

Agama Petunjuk Kebenaran

Manusia adalah makhluk berakal, bahkan juga makhluk tukang bertanya. Apa saja dipertanyakan oleh manusia dengan akalnya, untuk diketahui. Dari akal lahirlah ilmu dan filsafat. Dengan ilmu dan filsafat ini makin besarlah keinginan manusia untuk mengetahui segala sesuatu dan makin besar kemampuannya untuk itu.

Agama dan Ruang Lingkupnya



Dalam Al-Qur’an, agama disebut millah, misalnya millatu Ibrahim yang artinya agama (yang dibawa) Ibrahim. (Al-Nahl : 123). Selain itu dalam Al-Qur’an agama disebut juga din Atau al-din. Misalnya: lakum dinukum waliya din yang artinya bagimu din (agama)mu, dan bagiku din (agama)ku. (Al-Kafirun : 6). Selain berarti agama, kata din juga berarti: pembalasan di hari kiamat, adat kebiasaan, undang-undang, peraturan, dan ketaatan.

Agama Sumber Moral

Manusia sangat memerlukan akhlak atau moral, karena moral begitu penting dalam kehidupan. Moral adalah mustika hidup yang membedakan manusia dari hewan. Manusia tanpa moral pada hakikatnya adalah binatang. Dan manusia yang membinatang ini sangat berbahaya. Ia akan lebih jahat dan lebih buas dari pada binatang buas sendiri.

Tanpa moral, kehidupan akan kacau balau tidak saja kehidupan perseorangan tetapi juga kehidupan masyarakat dan negara, karena orang sudah tidak peduli lagi tentang baik buruk atau halal haram. Kalau halal haram tidak lagi dihiraukan, ini namanya sudah Machiavellisme.
Machiavellisme adalah doktrin Machiavelli “Tujuan Menghalalkan Cara”. Kalau ini yang terjadi, bisa saja kemudian bangsa dan negara hancur binasa, seperti diungkapkan Ahmad Syauqi Bek, penyair Mesir (w. 1868) dalam sebuah syairnya:
إِنَََّّا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ وَإِنْ هُُُوْ ذَهَبَتْ أَخْلاَقُ هُمْ ذَهَبُوا
Keberadaan suatu bangsa ditentukan oleh akhlak. Jika akhlak mereka telah
lenyap, akan lenyap pulalah bangsa itu.”

Kebenaran ucapan Ahmad Syauqi ini telah berulang kali terbukti dalam sejarah. Karena hancurnya morallah, maka menjadi hancur berbagai umat di masa nabi-nabi dulu, seperti kaum Ad (umat nabi Hud), kaum Tsamud (umat Nabi Shaleh), penduduk Sodom (Umat Nabi Luth), penduduk Madyan (umat Nabi Syuaib) dan lain sebagainya.

Dalam kehidupan seringkali moral melebihi peranan ilmu, sebab ilmu ada kalanya merugikan. “Kemajuan ilmu dan teknologi mendorong manusia kepada kebiadaban”, demikian dikatakan oleh Prof. Dr. Alexis Carrel, seorang sarjana Amerika penerima hadiah Nobel 1948 (Idris, 1979).
Sekarang di mana moral yang sangat penting bagi manusia ini dapat diperoleh? Moral dapat digali dan diperoleh dalam agama, karena agama adalah sumber moral, bahkan moral paling tangguh. Nabi Muhammad SAW diutus tidak lain juga untuk membawa misi moral, yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

W.M. Dixon dalam The Human Situation menulis: “Sekurang-kurangnya kita boleh percaya bahwa agama yang benar ataupun salah, dengan ajarannya percaya kepada Tuhan dan kehidupan akhirat yang akan datang, secara keseluruhannya kalau tidak satu-satunya, merupakan dasar yang paling kuat bagi moral”.

Dari tulisan Dixon di atas ini dapat diketahui bahwa agama merupakan sumber dan dasar (paling kuat) bagi moral, karena agama mengajarkan kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan akhirat. Pendapat Dixon ini memang betul.

Kalau seseorang percaya bahwa Tuhan itu ada, dan Tuhan yang ada itu Maha Mengetahui segala tingkah laku manusia yang kemudian memberikan balasan kepada tiap orang sesuai dengan amal yang dikerjakan, maka keimanan seperti ini merupakan sumber yang tidak kering-keringnya bagi moral. Itulah sebabnya Rasullullah SAW menegaskan:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُ هُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik
akhlaknya” (H.R. Tirmidzi).

Agama sebagai sumber moral tidak hanya karena agama mengajarkan iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat, melainkan juga karena adanya perintah dan adanya larangan dalam agama. Agama sesungguhnya adalah himpunan perintah dan larangan Tuhan. Adalah kewajiban manusia untuk taat terhadap semua perintah dan larangan Tuhan ini. Dari sinilah kemudian juga lahir moral. Sebab apa yang diperintahkan oleh Tuhan selalu yang baik-baik dan apa yang dilarang-Nya selalu yang buruk-buruk.


Dapat disimpulkan, bahwa pentingnya agama dalam kehidupan disebabkan oleh sangat diperlukannya moral oleh manusia, padahal moral bersumber dari agama. Agama menjadi sumber moral, karena agama mengajarkan iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat, serta karena adanya perintah dan larangan dalam agama.

Hidup Bahagia dengan Akidah Islam oleh Moh Sofwan Abbas

Di antara tugas kita sebagai seorang muslim adalah menghubungkan hati dengan Allah swt., mengenal-Nya, dan menghidupkan rasa takut kepada-Nya. Allah swt. adalah Pencipta yang sudah seharusnya disembah, Dzat yang mempunyai sifat-sifat sempurna, dan suci dari sifat-sifat yang kurang.
Segala kebaikan ada di tangan-Nya. Segala sesuatu terjadi karena kehendak-Nya.

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” [Ibrahim: 34].

Allah swt. adalah Rabb semesta alam, yang mengatur segala hal berhubungan dengan seluruh makhluk-Nya, yang menyediakan semua kebutuhan mereka, dan mengeluarkan mereka dari bahaya.
وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ
“Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri.” [Al-An’am: 17].

featured-content

About


Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/12/widget-clock-islami-allahuakbar.html#ixzz2qSiGQjX7
Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Followers

Become a Fan

http://www.free-counter-plus.com

Translate